Kamis, 23 Mei 2013

Tokoh-Tokoh



Dr. Cipto Mangunkusumo atau Tjipto Mangoenkoesoemo (Pecangakan, Ambarawa, Semarang, 1886Jakarta, 8 Maret 1943) adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara ia dikenal sebagai "Tiga Serangkai" yang banyak menyebarluaskan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hindia Belanda. Ia adalah tokoh dalam Indische Partij, suatu organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan penduduk setempat, bukan oleh Belanda. Pada tahun 1913 ia dan kedua rekannya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya, dan baru kembali 1917.
Dokter Cipto menikah dengan seorang Indo pengusaha batik, sesama anggota organisasi Insulinde, bernama Marie Vogel pada tahun 1920.
Berbeda dengan kedua rekannya dalam "Tiga Serangkai" yang kemudian mengambil jalur pendidikan, Cipto tetap berjalan di jalur politik dengan menjadi anggota Volksraad. Karena sikap radikalnya, pada tahun 1927 ia dibuang oleh pemerintah penjajahan ke Banda.
Ia wafat pada tahun 1943 dan dimakamkan di TMP Ambarawa.






Sumber: www.wikipedia.org

Tokoh-Tokoh

Dr.(HC) Ir. Soekarno (ER, EYD: Sukarno, nama lahir: Koesno Sosrodihardjo) (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 19451966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya.
Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya—berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan Darat—menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen Setelah pertanggungjawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS pada tahun yang sama dan Soeharto menggantikannya sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.
   





Sumber: www.wikipedia.org


Hari Kebangkitan Nasional Ajang Pemersatu

Makassar ( Berita ) : Ketua Umum Centris Asia Pasific Democrats International (CAPDI) HM Jusuf Kalla mengatakan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei menjadi ajang pemersatu kerajaan-kerajaan kecil untuk meraih kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Hari ini bertepatan tangga 20 Mei meripakan hari Kebangkitan Nasional Indonesia, yang mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil untuk berjuang bersama," kata Kalla pada pembukaan konvrensi CAPDI di Makassar, Senin 20 Mei.
Dia mengatakan masa itu ditandai dengan 2 peristiwa penting yakni berdirinya Boedi Oetomo 20 Mei 1908 dan Ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. 
Pada masa itu, lanjut dia merupakan awal kebangkitan dengan tumbuhnya rasa kebersamaan untuk merebut kedaulatan negara dan berjuang bersama untuk membentuk NKRI." Semangat kebersamaan itu dijalankan pula negara-negara Asia Pasifik yang berjuang memperoleh kedaulatan negaranya," katanya.
Berkaitan dengan hal tersebut, melalui konferensi CAPDI para tokohnya bersepakat melakukan rekonsiliasi politik dan mengantisipasi adanya perubahan iklim.
menurut Kalla, dua hal pokok tersebut sangat urgent dan menjadi tantangan bersama negara-negara-negara Asia Pasifik. hal senada dikemukakan Menkokesra HR Agung Laksono pada kesempatan yang sama.
Agung mengatakan, saat ini tantangan bagi pemerintah di kawasan Asia Pasifik untuk mempererlihatkan sikap politiknya dalam mewujudkan perdamaian di segala lini. Dia mengatakan bukan hanya mengatasi konflik antar negara tentang sengketa wilayah perbatasan, tapi juga dalam persaingan ekonomi, termasuk mengatasi masalah narkoba dan pengentasan kemiskinan.



Ilmuwan Indonesia peringati Hari Kebangkitan Nasional

Sabtu, 18 Mei 2013 19:55 WIB | 1938 Views
Ilustrasi (ANTARA News/Lukisatrio)
Kedua tokoh kemanusiaan Indonesia itu bekerja dengan hati dan menjadi inspirasi serta telah diakui dunia internasional."
Berita Terkait

London (ANTARA News) - Penerima CNN Heroes Award 2009, Budi Soehardi, dan penerima Ramon Magsaysay Award 2011, Hasanain Juaini berbagi ilmu dalam telekonferensi yang diadakan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2013.

"Kedua tokoh kemanusiaan Indonesia itu bekerja dengan hati dan menjadi inspirasi serta telah diakui dunia internasional." kata Muhammad Nurwegiono dari tim media I-4 kepada Antara London, Sabtu.

Dia mengatakan, I-4 hendak membagi cerita, inspirasi dan pengalaman dari Budi dan Hasanain untuk masyarakat Indonesia. Keduanya tidak hanya menginspirasi, tetapi juga mengajak diaspora Indonesia di luar negeri untuk mau bekerjasama dan bahu-membahu melakukan kegiatan serupa.

Menurut Muhammad Nurwegiono, Budi Soehardi adalah salah satu tokoh Indonesia yang membantu masyarakat Indonesia di Kupang dan menjadi ayah asuh bagi banyak masyarakat di Kupang.
Budi tidak hanya memberikan bantuan sehari-hari tetapi juga memberikan pendidikan.

"Alhasil, banyak dari antara mereka yang akhirnya memiliki bekal yang cukup untuk masa depannya," ujarnya.

Sementara itu, Hasanain Juaini, salah satu tokoh masyarakat yang membantu warga di Lombok Barat, menaruh perhatian besar tentang kebutuhan pendidikan masyarakat. Hal ini diejawantahkan dengan mendirikan sekolah dan pesantren.

Selain itu, kepedulian yang besar terhadap lingkungan juga diwujudkannya melalui kegiatan pelestarian lingkungan di daerah Lombok Barat.

"Tentu ada banyak tokoh masyarakat lain yang juga berbuat serupa. Akan tetapi, kali ini I-4 bekerjasama dengan Radio PPI Dunia tidak hanya mendapatkan inspirasi, tetapi juga bekerja bersama mereka," kata Faiz DZ Roni, salah seorang dari tim media I-4.

Dia mengatakan, kuliah "online" ini dapat didengarkan dan disaksikan melalui www.radioppidunia.org dan juga www.i-4indonesia.info dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional.
(H-ZG/S023/)


Sumber: Antara News

Berita tentang Kebangkitan Nasional


INILAH.COM, Jakarta – Kerajaan Belanda, terutama perusahaan dagang VOC, selama berabad-abad menguasai Indonesia, padahal jumlah orang Belanda sedikit. Mereka memang dibantu bangsa lain, tetapi pasti jumlahnya tak banyak, ujar seorang kawan.
Jadi kalau begitu siapa yang paling banyak membantu? Ya, orang Indonesia. Mereka berkolaborasi dengan orang Belanda untuk membantu penjajah melancarkannya misinya di Indonesia.
Sayangnya sejauh ini tak ada sejarahwan yang benar-benar mengungkap adanya pengkhianatan tersebut. Padahal pengungkapan tersebut penting guna mengingatkan kepada generasi penerus supaya jangan berkelakuan serupa itu lagi.
Bagi negara lain, Indonesia terlalu penting buat diabaikan. Atas dasar itu dilakukan berbagai cara supaya negara ini tetap berada dalam lingkup pemerasan negara-negara kapitalis. Di antaranya adalah dengan mempengaruhi pola pikir dan pola tindak para elit, misalnya dengan mengundang mereka untuk bersekolah, kunjungan kerja dan sebagainya. Cara ini ternyata jauh lebih murah ketimbang melakukan penguasaan wilayah.
Negara-negara kapitalis melakukan manuver itu dengan cermat. Presiden Sukarno pada 1950-an mengirim generasi muda kemana-mana sebagai persiapan membangun Indonesia yang kokoh, makmur dan berswasembada. Ada yang belajar seluk beluk maritim, industri kedirgantaraan, metalurgi bahkan para akhli yang bisa membuat Indonesia menjadi salah satu negara Asia yang memiliki pembangkit tenaga atom.
Ketika Presiden Sukarno ditumbangkan dengan cara yang rumit, maka yang kemudian muncul adalah generasi muda yang belajar ilmu ekonomi di Barat, terutama Amerika Serikat. Sekalipun tidak semuanya, termasuk yang belajar di Inggris dan Prancis, sepakat dengan kebijaksanaan yang serba liberal.
Pemerintahan Presiden Suharto menerapkan kebijaksanaan pembangunan berdasarkan pinjaman luar negeri dan investasi asing. Kebijaksanaan ini disertai dengan sikap keras karena merasa sedang menjalankan tugas suci yakni membangun negara.
Pemerintahan Presiden Soeharto berhasil membangun berbagai infrastruktur , namun dalam menghadapi investasi asing tak selektif pemerintahan sebelumnya. Maka dari itu, ketika sekarang terbersit kekecewaan terhadap dominasi asing, segala sesuatu yang serba impor serta utang yang menggunung maka akarnya berasal dari tahun 1960-an.
Ke mana generasi muda yang belajar di Eropa, terutama Eropa Timur? Mereka tersingkir secara sistematis dan dikaitkan dengan faham komunis. Padahal kalau mereka diberi peluang maka Indonesia mampu memberi nilai tambah kepada tembaga, emas, nikel, batubara dan lain-lain.
Kalaupun ada peluang maka sifatnya terbatas, misalnya, para ahli tenaga nuklir yang bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Tidak mengherankan bila mereka mulai ‘lupa’ akan ilmunya.
Ketika Indonesia, yang kehilangan jati diri, merayakan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei kemarin, maka banyak yang harus dibangkitkan. Sambil tak lupa menanyakan, ….Siapa sebenarnya anda ?